"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa."
(al-Baqarah[2]:183)
Allah Swt menyimpan banyak rahasia dibalik ketetapan syari'atNya, beragam hikmah di balik keputusan hukum-hukum-Nya, dan berbagai tujuan dibalik penciptaan makhluk-Nya. Di antara rahasia, hikmah, dan tujuan itu ada yang dapat dijangkau oleh akal manusia dan ada pula yang tidak dapat dijangkaunya melainkan hanya membuat akal manusia menjadi pecundang dalam mentafsirkannya.
Mengapa harus menahan lapar dan haus? karena puasa mempersempit jalur arus makanan dan darah yang juga merupakan jalur masuknya setan kedalam tubuh manusia, sehingga godaannya melemah. Puasa juga melemahkan birahi, pikiran yang buruk, dan dorongan maksiat. Dengan menahan lapar dan dahaga juga dalam rangka mengingatkan kita kepada saudara-saudara kita yang kelaparan dari kaum fakir dan miskin, sehingga tumbuh rasa kasih dan sayang kepada sesama.
Itu hanyalah sedikit hikmah dari jutaan hikmah yang terpendam dari menahan lapar dan dahaga. Tentu saja bukan hanya perut dan tenggorokan kita yang berpuasa dari makanan dan minuman, akan tetapi kalbu, lisan, mata, telinga kita pun ikut berpuasa.
BAGAIMANA KALBU BERPUASA?
Kalbu manusia itu bisa sakit, bisa tertutup pintunya, bisa terkunci, dan bisa pula mati. Kalbu seorang mukmin ikut berpuasa dalam bulan ramadhan dan puasa lainnya. Puasa kalbu dilakukan dengan mengosongkannya dari endapan yang merusaknya seperti berbagai kemusyrikan yang membinasakan, keyakinan yang bathil, bisikan yang buruk, niat-niat jahat, dan pikiran-pikiran yang mengerikan. Kalbu seorang mukmin puasa dari sifat sombong sebab kesombongan membatalkan puasa kalbunya. Kalbu seorang mukmin puasa dari sifat 'ujub, 'Ujub adalah anggapan seorang manusia bahwa dirinya seorang yang memiliki kesempuarnaan, lebih utama dari yang lain, dan bahwa kebaikan yang ada pada dirinya tidak dimiliki orang lain. Kalbu seorang mukmin berpuasa dari sifat dengki, karena sifat dengki akan menggugurkan amal-amal shalihnya, memadamkan cahaya kalbunya dan menghambat perjalanannya menuju kepada Allah Swt.
BAGAIMANA LISAN BERPUASA?
Lisan tak ubahnya bagaikan hewan pemangsa yang berbahaya, ular berbisa yang suka menggigit, dan api yang besar nyalanya.
Jagalah lisanmu, jangan sampai menyebut kelemahan seseorang, karena kita seua punya kelemahan sedang orang lainpun memiliki lisan
Bagaimana seseorang bisa puasa jika ia mengumbar lisannya tanpa bisa mengendalikannya? Bagaimana seseorang bisa puasa jika ia dipermainkan oleh lisannya, tertipu oleh ucapannya, dan terperdaya oleh jalan pikirannya? Bagaimana seseorang bisa puasa jika ia banyak berdusta, mengumpat, banyak mengeluarkan cacian dan makian, serta lupa kepada hari perhitungan? bagaimana seseorang bisa puasa jika ia mengemukakan kesaksian palsu dan tidak mau menghentikan keburukan, padahal dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa nabi Saw pernah bersabda: "Orang muslim itu adalah orang yang menghindarkan kaum muslimin dari ulah lisan dan tangannya."
BAGAIMANA MATA BERPUASA?
Puasa mata tidak lain adalah dengan menahannya untuk tidak memandang hal-hal yang diharamkan, menundukkannya dari melihat hal-hal yang keji, dan menutupnya rapat-rapat terhadap hal-hal yang terlarang untuk dilihat.
"katakanlah kepada wanita yang beriman: 'hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka." (an-Nuur:31)
Barang siapa yang tidak menahan pandangan matanya akan ditimpa berbagai macam musibah:
- Kalbu yang bersangkutan akan tercerai berai dan tercabik-cabik tidak beroleh ketenangan dan keteduhan berpikir.
- Melelahkan jiwa dan menyiksanya karena kehilangan konsentrasi berpikir dan tidak mempunyai kemampuan untuk menghimpunnya kembali.
- Kesyahduan ibadah dan manisnya ketaatan akan lenyap bila pandangan mata diumbar, dan suplai cahaya iman dan islam menjadi memudar.
- Mendapatkan dosa yang besar karena berani melanggar hal-hal yang diharapkan. Tidak sekali-kali seseorang terjerumus kedalam perbuatan keji (zina) melainkan sesudah ia mengumbar pandangannya.
- Karena ketaatan kepada Allah mengantarkan anda meraih kemuliaan dunia akhirat.
- Kalbu anda menjadi sehat, makmur, terhimpun semua potensinya, dan dapat meraih kenyamanan, ketentraman, kesenangan, dan kegembiraan.
- Jauh dari cobaan, aman dari musibah, dan terhindar dari dosa-dosa.
- Beroleh kesuksesan sebagai karunia dari Allah Swt atas hambanya untuk meraih ilmu, ma'rifat, taufik, dan bimbingan berkat ketaqwaannya.
- Ketajaman insting pembeda antara yang haq dan yang bathil.
"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintakan pertanggungjawabannya." (al-Israa'[17]:36)
Telinga harus berpuasa dari mendengarkan kata-kata mesum, nyanyian-nyanyian yang tidak baik, dan juga dari kata-kata keji dan amoral.
"Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda) kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu sebagai binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (al-A'raf[7]:179)
Memang benar, mereka mempunyai daun telinga akan tetapi tidak dapat mendengar dengan pendengaran orang yang mengambil pelajaran, merenungi, dan memahami dari apa yang didengarnya.
Di antara manusia ada yang memenuhi telinganya dengan menikmati suara irama yang diharamkan, nyanyian yang menyanjung dosa, dan perbuatan yang tidak bermoral sedang dia menyumbat kedua telinganya dari mendengarkan bacaan al-Qur'an dan pelajaran dari sunnah Nabi yang mulia; padahal keduanya diperintahkan untuk didengar olehnya.
Mendengarkan bacaan al-Qur'an akan membuahkan keimanan, hidayah, cahaya, dan keberuntungan. Mendengarkan bacaan al-Qur'an dengan khusyu' akan memenuhi kalbu yang bersangkutan dengan hikmah, ketenangan, kenyamanan, dan ketentraman.
Hai telinga,
Janganlah kau dengar selain hidayah selama-lamanya,
sesungguhnya hanya mengundang siksa saja jika kau dengarkan hal-hal yang berdosa.
Dikutip dari buku "meraih sukses di bulan Ramadhan"
Karya Dr. 'Aidh bin 'Abdullah al-Qarni.
